Indonesian English Arabic
Sunday, 5 September 2010
Google
Web
kabarMadura
KabarMadura.Com » Religi, Topik Menarik » Tarekat, Santri, dan Masyarakat

Tarekat, Santri, dan Masyarakat

Posted by kabarmadura On Monday, 9 March 2009 7:47 WIB
This news item was posted in Religi, Topik Menarik category and has 4 Comments so far.

Toko Madura Online menyediakan kebutuhan makanan, produk, souvenir lain yang unik dari madura.
Toko Madura Online Juga menerima pesanan anda dan kami siap menyediakannya untuk anda.

ACARA Idul Khotmi Tarekat Tijaniyah di PP. Al-Amien Prenduan, Sabtu (14/2), menjadi inspirasi tersendiri bagi saya untuk memahami konsep tarekat secara umum (bukan formal) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Maka, bukan maksud saya ingin membahas tarekat Tijaniyah secara khusus pada catatan ini. Sebab, selama ini, banyak pemahaman masyarakat seputar konsep tarekat terutama kalangan grass root (awam)-yang ikut lebih-lebih yang tidak ikut-acapkali salah. Seperti, ada beberapa orang yang mengikuti tarekat tertentu dengan niat ingin kaya atau pangkat tinggi. Di lain pihak, ada beberapa orang beranggapan, aliran-aliran tarekat formal sebagai kelompok eksklusif (istimewa) dalam beribadah kepada Tuhan; orang-orang suci dan dijamin masuk surga, sekaligus memandang diri mereka sendiri yang di luar tarekat sebagai orang yang rendah dan penuh dosa.

Sejauh ini, dikenal ada empat tahap jalan menuju Tuhan: tahap pertama, Syari’at. Berupa ibadah-ibadah formal, seperti salat dan puasa. Tahap kedua, Tarekat. Tahap ini dijadikan sebagai jalan alternatif menuju Tuhan karena tidak puas dengan jalan syari’at formal. Tahap ketiga, Hakekat. Yakni, keberhasilan seorang hamba yang mampu menghayati dan merasakan esensi amalan yang dia lakukan. Kemudian tahap yang paling tinggi, makrifat. Yaitu, puncak keberhasilan seorang hamba menuju Tuhan berupa penyaksian langsung kepada-Nya (mukasyafah). Al-Hallaj menyebut tahap ini dengan wihdatul Wujud; Siti Jenar mengenalnya dengan manunggaling kawulo Gusti (Hulul/pantheisme).

Dalam kitab Qifayatul Atqiya’, tarekat dipahami sebagai jalan atau cara (suluk) menuju Tuhan. Jalan tersebut dibagi menjadi empat macam. Pertama, duduk di antara manusia dan memberi mereka petunjuk kepada jalan yang benar, seperti guru dan muballig. Kedua, memperbanyak dzikir, salat, dan ibadah formal lainnya. Nah, jalan kedua inilah yang disistematisasi menjadi aliran-aliran tarekat formal. Ketiga, menjadi khodim para ahli agama, seperti pembantu kiai (khoddam). Dan keempat, mencari rizki yang halal untuk nafkah keluarga. Inilah yang menjadi jalan pencarian Tuhan yang biasa dilakukan oleh masyarakat awam, seperti para petani dan buruh, sekaligus banyak juga mereka yang ikut tarekat formal.

Dimanakah posisi santri? Saya kira para santri posisinya netral, mereka bisa menempuh jalan mana pun, bahkan bisa semua jalan sekaligus. Jalan pertama, bisa menjadi bagian mereka ketika mereka mengamalkan ilmunya dengan mengajak manusia ke jalan yang lurus. Jalan yang kedua, bisa dimasuki mereka, sebab ada pesantren tertentu yang menganjurkan atau bahkan khusus mendalami ajaran tasawwuf yang salah satu ajarannya adalah tarekat formal. Begitu juga yang ketiga, karena mereka menjadi pewaris para nabi dan ahli agama. Apalagi yang keempat, karena posisi mereka sama halnya dengan orang yang mencari nafkah halal untuk keluarganya, yaitu berupa ilmu sebagai nafkah batin untuk diri dan umat. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa matinya orang yang menuntut ilmu adalah syahid sebagaimana matinya orang yang berperang di jalan Allah. Selain itu, penuntut ilmu derajatnya paling dekat dengan para Anbiya’.

Semua jalan itu tidak ada yang lebih istimewa antara yang satu dengan lainnya, semua sama. Yang menjadikan istimewa adalah suasana hati personal (baca: kadar takwa) yang menjalaninya. Terbukti, jangan heran ketika ada seorang tani miskin yang kehidupannya sehari-hari terkesan jauh dari ibadah karena hanya sibuk kerja-apalagi mau ikut tarekat formal-tapi matinya menunjukkan tanda-tanda kealiman (khusnul khotimah). Ada juga seorang pemulung sampah yang tiba-tiba mampu menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Tapi sebaliknya, ada seorang kiai yang sebelumnya dianggap alim tapi akhir hayatnya justru su’ul khotimah.

Semua itu memerkuat, bahwa jalan (baca: tarekat) menuju Tuhan itu banyak dan bukan hanya milik seseorang atau kelompok tertentu (tarekat formal) seperti yang kerapkali disalahpahami selama ini. Sehingga, menyebabkan posisi manusia tersekat-sekat hanya gara-gara cara beribadah yang berbeda. Dan, acapkali beberapa orang yang merasa di strata terendah dan tidak masuk tarekat formal menjadi kecil hati, bahkan frustasi dengan perasaan berdosa yang berlebihan, dan muaranya menjauhi ibadah formal.

Salah satu muqaddam tarekat Tijaniyah mengibaratkan tarekat-tarekat tersebut dengan Baitullah yang memiliki pintu-pintu yang berbeda, terserah manusia mau masuk melalui pintu yang mana. Allah SWT berfirman, “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya”. (Q.S. 17: 84). Maka dari itu, siapa pun dan apa pun itu sama-sama memiliki potensi untuk berlomba menuju Tuhan dengan tarekatnya masing-masing; samudra berdzikir dengan gelombangnya, burung dengan kicauannya, penganut tarekat formal dengan amalan-amalan khususnya, pemimpin dengan keadilannya, kiai dengan taushiyahnya, santri dengan belajarnya, petani dengan cangkulnya, dan sebagainya. Tidak ada lagi yang kecil hati apalagi frustasi, semuanya harus punya nyali. Lebih penting lagi, tarekat bukan untuk mencari kekayaan harta atau pangkat, tapi untuk al-taqarrub Ila Allah semata.

(Merekam Hikmah Acara Idul Khotmi Tarekat Tijaniyah ke 216 di PP. Al-Amien Prenduan)

Oleh: Ali Sabilullah *
* Pengurus Ta’mir Masjid Jami’ (Santri) PP. Al-Amien Prenduan Sumenep.

Bookmark and Share

Related Posts:

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (1 votes, average: 1 out of 5)
Print This Post Print This Post
You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Comments to “Tarekat, Santri, dan Masyarakat

  1. 1

    Elfizon Anwar
    said on Thursday, June 4, 2009, 15:51

    Posted from Indonesia Indonesia
    Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP

    Iman dan ihsan itu merupakan bagian dari ajaran Islam, jadi bukan masing-masing berdiri sendiri. Syahadat itu merupakan dasar pokok dari ajaran Islam, sekaligus adalah ‘puncak’ atau kesimpulan dari ajaran iman. Tatkala dia yakin dengan Allah SWT, Nabi Muhammad SAW dan Islam, maka dia mengucapkan syahadat. Jabaran dari syahadat itu tergambar dalam rukun iman yang 6 (enam) pekara tersebut. Shalat dan puasa adalah gambaran ibadah dari ajaran Islam. Sementara zakat dan haji pada hakikatnya adalah muamalat, karena kedua perintah ini pasti menyangkut hubungan dengan orang lain. Apabila rukun Islam dilaksanakan dengan ihsan yakni semata karena Allah SWT, maka jadilah orang itu sufi. Jadi sufi itu adalah seseorang Muslim yang benar-benar melaksanakan rukun Islam dengan tingkat iman yang tinggi dan didasarkan dengan ihsan dan ikhlas. Semua orang Muslim bisa menjadi sufi dan tidak pula wajib harus dengan mursyid tertentu atau toriqoh tertentu. Insya Allah, Anda pun bisa jadi sufi.

  2. 2

    Saefulloh
    said on Tuesday, October 13, 2009, 12:03

    Posted from United States United States
    Using Opera Mini Opera Mini 9.80

    Aku setuju dengan coment di atas, bahwa jalan menuju Alloh adalah orang yang senanntiasa melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan2 Nya.

  3. 3

    elfan
    said on Wednesday, October 14, 2009, 14:27

    Posted from Indonesia Indonesia
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.2 on Windows Windows XP

    Ya semoga Allah SWT menganugerahkan kekuatan dan kemampuan pada kita untuk dapat melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan Allah SWT.

  4. 4

    fahmi
    said on Thursday, October 15, 2009, 12:48

    Posted from Indonesia Indonesia
    Using Safari Safari 532.0 on Mac OS Mac OS X

    pokoknya kalo mau disayang allah ya harus mengikuti semua perintahnya dan menjauhi larangnnya…itu aja titik dg alquran sebagai pedoman hidupnya.

Gravatar : You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar

Leave a Reply

Twitter Users
Enter your personal information in the form or sign in with your Twitter account by clicking the button below.


Comments links could be nofollow free
The Holy Qur'an :

© 2010 Media Informasi Wisata dan Komunitas Madura KabarMadura.Com | Media Informasi Wisata dan Komunitas Madura