Toko Madura Online menyediakan kebutuhan makanan, produk, souvenir lain yang unik dari madura.
Toko Madura Online Juga menerima pesanan anda dan kami siap menyediakannya untuk anda.
“JELAS saya harus pulang ke Madura. Pertama karena saya ingin memberikan sesuatu pada tanah kelahiran. Yang kedua karena anak istri saya di sana,” tegas Ali mengenai keinginannya ke depan.
Menurut dia, Surabaya tidak akan menjadi tempat hidup untuk selamanya. Surabaya baginya adalah tempat mengabdi sekaligus belajar banyak hal untuk dimanifestasikan di Madura. Sebab, dia melihat banyak hal membutuhkan perubahan di tanah kelahirannya. Terlebih sebentar lagi jembatan Suramadu selesai. “Kalau tidak ada perubahan, kita akan menjadi seperti kata orang mas, penonton dan terpinggirkan,” katanya.
Karena itu, terangnya, jika mendapat kesempatan kembali ke Madura, sekali lagi dia akan fokus di bidang pendidikan dan ekonomi masyarakat Sampang. Pasalnya, pendidikan dan ekonomi saling membutuhkan dan berjalin kelinden antara satu dengan yang lainnya. Jika pendidikan bisa berkualitas, maka masyarakat akan pintar mencari dan memanfaatkan sumber daya ekonominya. Jika ekonomi tumbuh, maka masyarakat tak akan berpikir untuk berpendidikan.
Di Sampang, berdasarkan data BPS, daya belinya di atas rata-rata Jatim, apa berarti ekonominya sudah baik? “Kalau dilihat dari data memang seperti itu. Tapi kenyataannya bagaimana,” katanya balik bertanya.
Menurut dia, jika benar tingkat perekonomian masyarakat sudah baik, berarti harus ada kesadaran untuk meyakinkan mereka pada pendidikan. Hanya, untuk itu memerlukan usaha yang cukup berat. “Sebab, di Sampang itu sebenarnya ada oknum yang tidak suka kalau masyarakat berkembang. Sebagai contoh ada anak muda yang pintar pulang ke sana, bukan dijadikan mitra. Malah dianggap saingan. Akhirnya, pemuda merasa tidak punya tempat jika harus pulang. Jadi, jangan heran kalau banyak yang memilih tidak pulang,” ujar mantan aktivis mahasiswa Unibang (sekarang Unijoyo) ini.
Ditegaskan pula oleh suami Musrifah ini, Sampang seharusnya menjadi kabupaten yang tingkat pendidikannya paling baik. Mengingat di kabupaten yang berbatasan dengan Bangkalan dan Pamekasan ini memiliki banyak pondok pesantren. “Sayang sekali saya lihat pondok-pondok pesantren di sana seperti tidak serius. Hanya sekadar ada saja,” ujarnya.
Seharusnya, sambungnya, cukup ada beberapa pondok pesantren yang bagus dan fokus. Para kiai mungkin sudah saatnya memikirkan untuk membuat pondok yang integral. Sehingga, bisa bekerjasama dalam membentuk SDM di Madura. “Kan pondok itu perlu dipikirkan juga dana biaya operasional dan manajemennya. Jangan bikin pondok semua, karena bisa jadi bukan bersaing di kualitas pendidikan, tapi berebut santri,” pungkasnya. (jawapos/radarmadura)
Related Posts: