Toko Madura Online menyediakan kebutuhan makanan, produk, souvenir lain yang unik dari madura.
Toko Madura Online Juga menerima pesanan anda dan kami siap menyediakannya untuk anda.
BANGKALAN - Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Kabupaten Bangkalan KH Machfud Hadi terusik dengan fenomena dukun cilik. Terlebih setelah di wilayah Kamal juga muncul “Ponari” versi Madura. Yakni Irvan Maulana alias Rido’i, warga Kampung Baru RT1/RW2 Desa/Kecamatan Kamal. Bocah enam tahun ini diyakini dapat mengobati berbagai penyakit dengan menggunakan mediator batu.
Diakui Mahfud Hadi, maraknya fenomena dukun cilik mengindikasikan pengobatan alternatif masih menjadi pilihan warga. “Sebab warga masih percaya terhadap pengobatan alternatif,” ujarnya.
MUI tidak sepenuhnya menyalahkan fenomena yang dapat menyedot perhatian ratusan - bahkan ribuan warga, terutama yang ingin berobat. Pasalnya, masyarakat selama ini merasa tidak puas dengan nuansa pengobatan ilmiah. “Mereka yang diobati dokter terkadang tidak kunjung sembuh. Makanya kemudian mereka mencari pengobatan alternatif,” tukasnya.
Namun, pengobatan seharusnya dilakukan dengan serangkaian observasi. Untuk kemudian ditentukan tindakan pengobatan dan obat yang sesuai pada penderita. Untuk itu, MUI sebagai institusi agama, menghukumi fenomena tersebut mendekati kepada kesyirikan.
Disinyalir, praktik pengobatan seperti dimaksud hanya dijadikan ladang bisnis oleh pihak ketiga. Mereka memanfaatkan bocah kecil untuk dipopulerkan. Kemudian dimanfaatkan untuk meraup rupiah. “Banyak kan kasus serupa. Akhirnya yang kaya orang terdekatnya,” jelasnya.
Machfud menjelaskan, Tuhan tidak menurunkan penyakit tanpa disertai obatnya. Sedang orang yang mengetahui penyakit serta obat tersebut, hanya orang yang ahli di bidang pengobatan. “Apakah anak di bawah umur (mukallaf) pantas dikategorikan ahli. Makanya kita jangan mudah percaya,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Kadinkes Bangkalan dr Facrur Rozi. Menurutnya, untuk menentukan manfaat dari nuansa pengobatan yang dilakukan Rido’i, terlebih dahulu harus dilakukan serangkaian observasi terutama terhadap batu yang dijadikan mediator. “Siapa tahu mungkin dalam batu itu ada kandungan zat obat,” ujarnya.
Ditanya ketidakpuasan masyarakat mendapatkan pelayanan pengobatan secara ilmiah di Bangkalan, Rozi membantahnya. Sebab tidak sedikit pasien yang diobati dan sembuh dengan nuansa ilmiah. Rozi juga mensinyalir, perhatian warga terhadap pengobatan alternatif lebih karena faktor ekonomi belaka.
“Harga obat - obatan memang banyak yang mahal. Sehingga mereka yang membutuhkan tidak bisa menjangkau. Makanya, pengobatan alternatif kemudian menjadi pilihan,” tegasnya.
Yang perlu disadari, terang Rozi, perhatian pemerintah terkait pelayanan kesehatan sebetulnya tidaklah kurang. Semisal dengan diusahakannya Jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat). Itu tak lain untuk mengantisipasi tidak terjangkaunya kesehatan masyarakat. (c12/ed)
Sumber : Jawa Pos / Minggu, 22 Februari 2009

Related Posts:
fahmi
said on Thursday, October 15, 2009, 12:49
Posted from
Indonesia
Safari 532.0 on
Mac OS X
Using
intinya jgn sampai kita sirik atau menduakan Allah.itu aja…