Toko Madura Online menyediakan kebutuhan makanan, produk, souvenir lain yang unik dari madura.
Toko Madura Online Juga menerima pesanan anda dan kami siap menyediakannya untuk anda.
Di Kota Dikalahkan Televisi, di Desa Tetap Meriah
Madura dan beberapa daerah lain memiliki aktivitas menyambut bulan di mana nabi besar umat muslim dilahirkan, yaitu Rabiul Awal. Sayangnya, tradisi itu kini semakin banyak ditinggalkan di wilayah kota. Sementara di desa, peringatan yang dikenal akrab dengan sebutan cocoghan ini masih menjadi prioritas warga.
NUR RAHMAD AKHIRULLAH, Bangkalan
PERTANDA tersendiri bagi warga di Madura ketika segala tanaman berbuah berarti bulan Rabiul Awal sudah dekat. Rabiul awal menjadi bulan yang sangat spesial bagi warga Madura karena Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan pada tanggal 12 salah satu bulan penangggalan hijriah tersebut. Berbagai kegiatan dilaksanakan untuk menyambut datangnya bulan yang juga suci di samping Ramadhan.
Kegiatan yang paling banyak ditunggu - tunggu adalah pelaksanaan cocoghan. Kegiatan ini merupakan suksesi pergantian. Dirayakan tepat di malam tanggal 1 Rabiul Awal. Kegiatannya semacam pengajian dengan pembacaan salawat nabi secara bersama - sama di surau dan mushala. Segala yang dimiliki warga mulai dari uang hingga buah - buahan yang mereka miliki disumbangkan untuk mereka yang datang ke peringatan tersebut.
Mereka yang datang menyumbang tidak lantas pulang, tapi juga duduk membacakan surat - surat. Pada surat tertentu warga yang hadir harus berdiri. Pada surat tertentu pula warga harus berebut buah - buahan yang dihidangkan dan sumbangan warga. Setelah berebut mereka kembali tenang membaca surat yang lain hingga usai. Beberapa kampung masih punya kegiatan sendiri seperti yang dilakukan oleh kelompok warga di Jalan Trunojoyo III (Bangkalan). Mereka terus melantunkan salawat nabi disertai tabuhan alat musik rebana dan perlengkapan lainnya.
Namun, cocoghan kini sudah banyak ditinggalkan oleh warga kota. Tradisi yang sudah ada sejak lama ini kalah dengan tayangan hiburan televisi. “Terus terang memang tambah lama kegiatan tahunan ini makin sepi. Kalah sama TV (televisi,Red) Mas. Kalau diajak orang - orang ternyata lebih memlilih nonton TV,” ujar Rosi warga Jalan Jokotole sepulang cocoghan di kampungnya. Padahal, sambungnya, saat dirinya masih kecil, tak satu pun warga diam di rumahnya saat cocoghan berlangsung. “Waktu itu memang tidak ada TV,” imbuhnya.
Menurut Rozi, kondisi tersebut berbeda dengan di desa. Tak perlu jauh - jauh membuktikan hal tersebut. Pasar yang biasanya ramai bisa cukup sepi menjelang peringatan memasuki bulan lahir nabi terakhir itu. Mereka memilih pulang ke rumahnya masing - masing untuk mempersiapkan hidangan terbaik untuk disumbangkan ke mushala desa dan kiainya. “Kalau di kampung - kampung kota saja masih ada yang mengadakan cocoghan, saya yakin di desa tak akan sepi. Pasti ramai, tidak mungkin ada mushala yang kosong. Warga juga pasti ikut semua,” ujarnya pria asal Kecamatan Geger ini. (*)
Sumber : Jawa Pos / Jum’at, 27 Februari 2009

Related Posts:
s k e t s a s e k e l u m i t | SURAU DALAM RUMAH KELUARGA MADURA
said on Sunday, October 11, 2009, 12:27
Posted from
Indonesia
WordPress 2.7.1
Using
[...] berebut shaf paling depan dalam barisan jemaah maghrib. Dan sesudahnya anak-anak mereka reriung belajar membaca al-Qur’an pada orang tua pemimpin mereka sampai saat Isya tiba. Di tengah temaram lentera riuh ayat demi ayat [...]
rengparenduan
said on Sunday, October 11, 2009, 12:43
Posted from
Indonesia
Mozilla Firefox 3.5.3 on
Windows XP
Using
Saya kira inilah kekuatan Madura. Kita tidak perlu prihatin atas modernism dan bentuk perkembangan apapun di Madura. Islam dan perannya terhadap masyarakat telah melekat. Kita bisa lihat dimanapun, di luar negeri sekalipun, masyarakat Madura masih sangat disiplin atas kepribadian budayanya. Logat bahasa, songkok, sarong, struktur kata, ruang bermukim dan keseluruhan sistemnya masih Madura. Bahkan di banyak tempat khas Madura sangat dominan dan mendorong “maduranisasi”. Di dekat pasar anyar bogor, di sisi Timur sungai sejak tahun 1971 ketika seorang penjual sate dari Blega datang dan menanungi sanak dan kerabatnya untuk bekerja dan hidup di sana. Tumbuh komunitas dalam deretan-deretan rumah untuk 10 keluarga yang berbahasa Madura, dengan ciri songkok, sarong, klambi tebbhak, samper, kodung, kejung, diba’, solawat, dan mushollanya. Entah sudah berapa rumah kini….