Toko Madura Online menyediakan kebutuhan makanan, produk, souvenir lain yang unik dari madura.
Toko Madura Online Juga menerima pesanan anda dan kami siap menyediakannya untuk anda.
Lahir sebagai Bentuk Protes pada Pemkab
PERSATUAN akan melahirkan kekuatan. Begitulah filosofi awal berdirinya Fobek Pamekasan. Ketika itu, Fobek memang sedang merasakan kekecewaaan. Itu karena pemkab kurang memerhatikan tukang becak dan tukang ojek, pemkab dinilai cenderung cuek.
Sekitar 2001, mereka yang tergolong pekerja kasar dan cenderung dilihat sebelah mata itu bahkan terkesan tidak punya kekuatan. Utamanya, untuk menyusun kekuatan agar bisa melawan sistem yang dinilai tidak merakyat.
Dari filosofi itulah, mereka akhirnya membentuk forum ojek dan becak yang sekarang ngetren dan sangat familiar dengan sebutan Fobek. “Saat itu (2001) memang menjadi awal kami menyatu sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang kami nilai mengancam integritas kami selaku pekerja kasar,” kata Ketua Fobek Pamekasan Karsono kemarin.
Menurut Karsono, pada 2001 pemkab dengan kekuatannya berencana akan merubah trayek bus AKDP dan AKAP. Jika semula masuk kota, sejak itu direncanakan tidak lagi melewati kota. Melainkan, menggunakan jalur baru, yakni ringroad.
Merasa pendapatan mereka terancam karena kebetulan banyak mangkal di perkotaan, mereka habis - habisan berjuang. Salah satunya dengan cara menyatukan kekuatan yang sebelumnya terserak. “Kami saat itu langsung mengatasnamakan Fobek Pamekasan menolak keras kebijakan pemerintah,” tegas Karsono.
Bentukan yang dipelopori salah satu organisasi kemahasiswaan nasionalis ekstra kampus tersebut, ternyata efektif. Jalur bus AKDP dan AKAP tetap melewati kota. Sehingga, becak dan ojek bisa bekerja di posnya masing - masing.
“Memang kami banyak berhutang budi kepada kawan - kawan aktivis yang telah membantu kami dari nol hingga terbentuk seperti sekarang,” katanya usai mengantar penumpang kemarin.
Namun, sekitar 2005 pemkab kembali menggugah kenyaman mereka yang sudah terbiasa di setiap persimpangan kota. Yakni, dengan munculnya kebijakan ingin mengaktifkan ringroad sebagai jalur antarkota.
Tak ayal, tolakan dan kecaman kembali dilakukan oleh Fobek. Namun, gerakan mereka sia - sia. Pasalnya, pemkab tetap bersikukuh dengan keputusannya agar angkutan bus tidak boleh lewat dalam kota.
“Meskipun kami gagal melakukan penolakan itu. Kami dan kawan - kawan masih bisa mangkal di Terminal Baru Ronggosukowati di Ceguk,” katanya sambil mengeluh karena pendapatannya tidak sebanyak dulu.
Organisasi yang mulai profesional itu, saat ini beranggotakan sekitar 3.300 orang. Selain sudah dibangun dengan aturan organisasi, setiap anggota juga mempunyai ikatan hubungan emosional kuat.
“Kalau iurannya masih belum efektif. Tapi, ke depan kami akan jadikan Fobek organisasi becak dan ojek profesional pertama kali di Indonesia,” tegasnya. (nadi mulyadi/akhmadi yasid)
Sumber : Jawa Pos / Minggu, 22 Februari 2009

Related Posts: