Toko Madura Online menyediakan kebutuhan makanan, produk, souvenir lain yang unik dari madura.
Toko Madura Online Juga menerima pesanan anda dan kami siap menyediakannya untuk anda.
Warga Sepakat Kontrak Sumur, Bayar Rp 1.250 Setiap Hari
Reformasi struktur organisasi di manajeman PDAM Trunojoyo Sampang belum diikuti peningkatan kualitas layanan bagi masyarakat pelanggan. Mengapa?
HARIYANTO, Sampang
PELANGGAN PDAM di Kampung Damaran Jalan Diponegoro, Kelurahan Banyunyar, Kota Sampang, sudah lama tidak menikmati aliran air bersih. Bayangkan saja, sedikitnya 30 pelanggan tidak mendapat kucuran air PDAM sudah 10 tahun.
Abd. Wahed, salah seorang warga Damaran yang ditemui koran ini mengungkapkan, macetnya pasokan air bersih ke rumah-rumah pelanggan berlangsung sejak 1998. “Sejak saat itu tetangga kami kecewa. Maklum saja, hunian kami ini kan tergolong kawasan pesisir karena dekat dengan laut dan tambak. Jadi, memang butuh air PDAM,” katanya.
Begitu air PDAM tidak mengalir, warga memutar otak untuk mencari sumber air baru. Sebab, bagi warga di sana, air merupakan salah satu kebutuhan pokok yang harus terpenuhi. “Saat itu warga memutuskan mengambil air di sumur milik salah warga di kampung sebelah. Akhirnya disepakati sebagai sumur kontrak,” ungkapnya.
Warga Damaran sepakat mengontrak sumur tersebut sampai sekarang. Setiap hari warga diminta membayar iuran sebesar Rp 1.250. Untuk memerlancar pasokan air dari sumur ke rumah penduduk, warga menggunakan pipa sepanjang 450 meter milik PDAM Trunojoyo Sampang. Hal ini sesuai kesepakatan dengan Dirut PDAM yang saat itu dijabat Supandi Riambomo.
Wahed berharap pemerintah bisa membantu warga Damaran mencarikan solusi terbaik terkait masalah macetnya distribusi air PDAM ke kampungnya. “Kami sudah sering melapor. Tapi setelah itu, air PDAM tetap tidak mengalir. Kabarnya, macetnya pasokan air PDAM diduga karena sumbernya mengering,” ungkapnya.
Basuki, warga Damaran yang lain, mengaku tidak begitu merisaukan macet air PDAM. Maklum saja, suami Suwandayani ini memiliki sumur sendiri. “Sumur ini dibangun sejak 1985. Jadi, begitu air PDAM macet, kami memanfaatkan sumur yang dulunya kolam ikan itu,” ungkap pria kelahiran Jogjakarta ini.
Dirut PDAM Trunojoyo Sampang Robert Balbut yang dikonfirmasi melalui layanan ponselnya sekitar pukul 15.15 tidak memberri respons. Panggilan koran ini tidak dijawab. Sebelumnya koran ini mengirim pesan pendek (SMS). Juga tidak dijawab. (mat)
Sumber : Jawa Pos
Related Posts:
Abdul
said on Wednesday, June 3, 2009, 8:41
Posted from
United States
Opera Mini 9.60
Using
Tolong dicek,bukan cuma di banyuanyar..Di madegan kelurahan polagan sdh lbh 10 thn jg g ada air pdam mengalir.Ketersediaan air untuk warga adalah hak yg wajib dpenuhi oleh penyelenggara negara.Gmana mau menyongsong era baru pasca jembatan suramadu..Ngurus air untuk warga aja gak bisa..!!!Gmana mau ada investor masuk..Malu dong..Bangun pasar megah2 tapi ngurus air gak bisa,pdhal jarak polagan ke kota sampang +/- cm 5km..