Indonesian English Arabic
Saturday, 4 September 2010
Google
Web
kabarMadura
KabarMadura.Com » Religi » Kegagalan Israel terhadap Palestina

Kegagalan Israel terhadap Palestina

Tagged with:
Posted by kabarmadura On Monday, 5 January 2009 17:01 WIB
This news item was posted in Religi category and has 7 Comments so far.

Toko Madura Online menyediakan kebutuhan makanan, produk, souvenir lain yang unik dari madura.
Toko Madura Online Juga menerima pesanan anda dan kami siap menyediakannya untuk anda.

Ketika George Bush, Presiden AS pertama kali memasuki Gedung Putih sebagai Komandan Nomor Satu AS pada tahun 2001, orang-orang Palestina tengah meregang nyawa dalam aksi infitifadhah al-Aqsha. Delapan tahun kemudian, ketika Bush akan meninggalkan Gedung Putih, hal yang serupa terjadi: orang-orang Palestina kembali tewas sebagai tebusan agresi keji yang dilancarkan Israel, pelakunya masih sama selama 60 tahun terakhir ini, yaitu Israel. Dan, AS, dari dulu sampai sekarang, tetap pada pendiriannya, mendukung Israel dengan segala argumennya.
Apa yang dilakukan oleh Israel sekarang ini, sama persis pula dengan apa yang mereka lakukan terhadap pasukan Hizbullah di Lebanon tahun 2006 silam. Tapi, alih-alih bisa menghancurkan Lebanon, malah Hizbullah memenangkan pertempuran yang berat sebelah itu, dan mereka menjadi symbol kebangkitan dunia Arab. Israel, dengan agresinya terhadap Jalur Gaza sekarang ini akan melakukan kembali kesalahannya.
Jelas sudah Israel berharap bahwa Palestina akan menerima penjajahan Israel—mengingat sekarang Palestina sudah kehilangan lebih dari separuh fungsi sosialnya. Tetapi, jika Palestina berusaha melawan, seperti yang kini ditunjukan oleh Hamas, negara Yahudi itu akan kembali babak belur, sama halnya dengan kejadian di Lebanon dua tahun lalu. Israel harus belajar bahwa kekuatan militer tak akan pernah bisa menghentikan gerakan perlawanan dunia Islam, dalam hal sekarang ini, Palestina.
Faktor Media
Sementara militer Israel khusyuk membombardir 1.5 juta penduduk Gaza, media menyaksikan sebuah dilema simalakama—karena di satu sisi mereka terluka mengabarkan semua itu, namun di sisi lainnya, mereka juga berusaha mencari-cari pembenaran atas ulah sang agresor barbar itu.
Tapi, tak ada yang mengejutkan dalam hal ini; orang-orang Israel sudah memperkirakan semua opini media massa terhadap aksinya, juga karena yang terpenting, Israel sudah jauh-jauh hari (selama enam bulan lebih) membuat kerja sama dengan negara-negara Arab.
Beredar sebuah pertanyaan di kalangan pers AS; apakah sebuah terorisme atau agresi terhadap penduduk sipil bisa dibenarkan? Jawabannya jelas tidak sama dengan kejadian 150 tahun lalu ketika Yahudi dibantai Nazi Jerman—dibandingkan dengan orang-orang Palestina sekarang ini. Negara-negara yang kuat secara militer seperti Israel, AS, Rusia, Cina selalu menyebut korban perjuangan sebagai teroris.
Tapi negara-negara ini gagal mengenali jenis teror yang terjadi di Chechnya, penyembelihan Palestina, represi Tibet dan pendudukan AS atas Iraq dan Afghanistan. negara-negara adidaya, selalu seperti biasanya jumawa dalam mendefinisikan semua arti perlawanan; yang mereka beri label dalam satu stigma—teroris. Dan media-media yang ada sekarang, apa lacur, dipunyai oleh mereka, dan media-media ini lah yang menyebarkan stigma dan citra itu ke seluruh penjuru dunia.
Perlawanan setengah hati
Para negara kolonial selalu menggunakan cara licik yang sama selama berabad-abad dalam menaklukan sebuah wilayah yang alot untuk ditaklukan; mereka menyerang penduduk sipil terlebih dahulu. Ini akan membuat semua elemen pembela tanah yang bersangkutan menjadi patah arah, putus asa dan merasa membentur tembok besar ketika harus konsisten melakukan perlawanan.
Hal inilah yang tidak akan pernah dilakukan oleh orang-orang Palestina terhadap Israel, sebuah perbedaan yang jauh sekali jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Israel yang tak punya rasa malu.
PLO, kemudian Hamas
Tahun 1948, ketika Israel sekonyong-konyong tanpa alasan yang jelas mendirikan sebuah negara di Palestina, 750.000 rakyat Palestina diusir dari rumahnya, dan ratusan rumah dibumihanguskan. Tanah Palestina diklaim milikinya sampai hari ini.
Sebaliknya, Palestinian Liberation Organization (PLO) yang terus digerogoti dan dijadikan mitra dalam merebut Palestina sepenuhnya, terus dijanjikan kekuasaan dan kebebasan bagi rakyat Palestina. Inilah yang membuat PLO menjadi melempem, dan malah kemudian tidak punya daya lawan apapun terhadap Israel di kemudian hari. Bahkan banyak memberi jalan kepada Israel untuk meneruskan penjajahannya dengan kemudahan kelas atas.
Ketika PLO sudah jinak, fokus Israel beralih pada Hamas. Hamas memenangkan pemilu legislatif tiga tahun lalu, karenanya Israel sadar betul, bahwa Hamas lah sebenarnya sasaran tembak untuk mendapatkan seluruh pendudukan Palestina. Dengan cara memberlakukan embargo pada Palestina dan mengizinkan Israel menjejakan kakinya di Gaza, dunia telah mengatakan pada rakyat Palestina dengan kebohongan paling besar dalam sejarah, bahwa Hamas tidak sehat untuk demokrasi Palestina.
Akibatnya, tanpa disadari oleh rakyat Palestina sendiri, mereka kemudian terjebak dalam kenyataan bahwa bukan hanya Hamas yang menjadi korban isolasi atau pengasingan dunia. Tetapi rakyat Palestina pun menjadi pesakitan. Kondisi ini semakin menjadi-jadi ketika Israel menggempur semua infrastuktur yang dimiliki oleh Palestina.
Israel, tak pelak dan tak sungkan, menghabisi semua yang ada di Palestina, polisi, rakyat, bahkan pejabat PLO sendiri yang menghamba padanya.
Kebijakan Gagal
Dalam 60 tahun terakhir, para pemimpin Israel telah menggarisbawahi bahwa satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh orang Arab adalah kekerasan. Padahal, kenyataan sebenarnya, Israel lah yang rutin menjadikan kekerasan sebagai penyelesaian masalah. Tahun 2002, Liga Arab di Beirut dalam pertemuannya menawarkan Israel sebuah gagasan untuk mengakhiri tumpahan darah dan perjanjian damai. Israel menjawabnya dengan mengagresi Jenin dan membunuh ratusan orang di sana. Bulan lalu, Fatah meluncurkan kampanye media mengingatkan resolusi 2002, tapi dijawab dengan aksi brutal yang eksrem.
Kesimpulannya adalah Zionis Israel tidak lagi punya proyeksi yang panjang. Selanjutnya, hanya akan ada satu negara saja dalam sejarah Palestina. Dalam dekade mendatang, Israel akan berkonfrontasi dengan sebuah pertanyaan mendasar: sejarah penjajahan hanya akan bekerja jika penduduk asli ditumpas habis.
Tapi sering, seperti yang terjadi di Algeria, yang bertahan adalah mereka yang memiliki tanah aslinya. Dan Palestina tidak akan pernah rela untuk berkompromi dengan Israel. Juga tidak akan pernah menerima Israel berada dalam wilayah jengkal tanahnya. Mengaggresi Palestina sekarang ini, kolonial Israel akan segera menyerah dan angkat kaki dari bumi Palestina.
Nir Rosen Wartawan asal Beirut, Pengarang buku “The Triumph of the Martyrs: A Reporter’s Journey into Occupied Iraq.” (sa/aljazeera)
eramuslim.com

Bookmark and Share

Related Posts:

You can leave a response, or trackback from your own site.

7 Comments to “Kegagalan Israel terhadap Palestina

  1. 1

    Elfizon Anwar
    said on Thursday, January 15, 2009, 16:42

    Posted from Indonesia Indonesia
    Using Internet Explorer Internet Explorer 7.0 on Windows Windows XP

    Masalah Palestina pada dasarnya adalah masalah ‘Orang Arab’ semata, karena dengan adanya pengalihan kiblat ke Masjidil Haram, otomatis tanah sucinya sudah beralih. Orang-orang Arab tidak mempunyai kekompakan, hanya sekedar mencari keselamatan dirinya sendiri, ada yang pemerintahannya mengakui Israel dan ada yang tidak. Negara Arab ada yang membantu Palestina dengan terang-terangan, ada pula yang melalui pintu belakang. Ada pula yang membantu Israel dan AS, juga dengan cara ‘malu-malu’ kucing, yang penting, kepentingannya tidak terganggu. Ya tidak heran, disaat Gaza digempur Israel, tidak ada seorang raja atau presiden dari negara-negara Arab di Timur Tengah ini yang berani tampil mengambil ‘tongkat komando’ untuk membela Palestina. Jadi, gara-gara ulah para penguasa kaum Arab maka rakyatnya sekarang menjadi korban gempuran Israel.

  2. 2

    blog competion
    said on Saturday, January 17, 2009, 0:23

    Posted from Indonesia Indonesia
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.0.5 on Windows Windows Vista

    ini masalah pembunuhan masa suatu kaum..yang mana ini sudah termasuk kejahatan peran yang lebih tepatnya sebagai pelangaran HAM

  3. 3

    kabarmadura
    said on Monday, January 19, 2009, 11:07

    Posted from Indonesia Indonesia
    Using Opera Opera 9.51 on Linux Linux

    Semoga Allah mempercepat kemenangan ummat islam dalam bejuang mempertahankan kebenaran

  4. 4

    uly
    said on Monday, February 9, 2009, 22:00

    Posted from Indonesia Indonesia
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 2.0.0.6 on Windows Windows XP

    aminnn… smoga aja negara moslem sekarang aman2 aja dan di lindungi oleh Allah..semangat palestina demi agama Allah bahwa sesungguhnya Allah menyukai orang2 yang syuhada….hidup agama Allah…….

  5. 5

    fahmi
    said on Thursday, October 15, 2009, 12:51

    Posted from Indonesia Indonesia
    Using Safari Safari 532.0 on Mac OS Mac OS X

    semoga Allah memberi petunjuk kepada orang2 yg beriman,,,dan kemenangan yg hakiki….

  6. 6

    kita bersaudara
    said on Friday, June 4, 2010, 14:00

    Posted from Indonesia Indonesia
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.9 on Windows Windows XP

    Masalah Israel - Palestina adalah masalah perebutan teritori yang telah berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu, ketika Islam masih belum eksis sebagai sebuah agama.

    Amat disayangkan apabila sentimen agama harus diangkat sebagai alat untuk memperoleh dukungan dari negara2 lain. Hamas sebagai pemegang kendali politik Palestina seharusnya tidak bertindak seperti pengecut, dengan bangga meluncurkan misil ke Israel, namun ketika diserang balik berteriak2 seperti ibu tua yang dianiaya preman pasar. Hamas menabur misil, maka misil pula yang akan mereka tuai.

    Sekilas Sejarah Palestina

    Bangsa Philistine yang asli sudah punah lebih dari 2.500 tahun yang lalu!
    Bangsa Philistine (Filistin) adalah suatu bangsa pelaut, campuran berbagai macam etnis dari Turki dan Yunani (pulau Crete) yang berlayar dari Laut Aegea menuju wilayah Laut Mediterranea timur.

    Satu kelompok Philistin tiba di Tanah Kanaan pada masa sebelum tahun 1600SM dan menetap di selatan dari Bersyeba di Gerar di mana mereka jatuh ke dalam konflik dengan Abraham, Ishak dan Ismael.

    Satu kelompok Philistin yang lain, datang dari Crete setelah dipukul mundur oleh Ramses III setelah mencoba menginvasi Mesir pada tahun 1194SM, menguasai area pantai selatan, di mana mereka membangun lima kota-kota pemukiman (Gaza, Asdod, Askelon, Ekron dan Gat).

    Bangsa Philistine tersebut yang menjadi musuh bebuyutan bangsa Israel (Yahudi) yang juga pada masa itu tiba dan tinggal di tanah tersebut. Mereka bukanlah bangsa Arab. Mereka adalah bangsa keturunan Yunani. Jadi, Delilah dan Goliath yang disebut sebagai bangsa Philistine di dalam cerita agama (Kitab Suci) bukanlah bangsa Arab Palestina, melainkan bangsa Eropa.

    Bangsa Philistine bahkan bukanlah bangsa Semitis. Mereka tidak berbahasa Arab. Mereka tidak ada hubungan etnis, bahasa atau sejarah dengan jazirah Arab atau bangsa Arab.

    Pada zaman purbakala (tahun 1600SM) wilayah ini disebut sebagai Tanah Kanaan karena bangsa asli yang ada di sana adalah bangsa Kanaan (yang sekarang sudah punah).

    Setelah bangsa Israel sampai di sana, membuat komunitas dan mendirikan kerajaan di sana (tahun 1020SM-586SM), maka Tanah Kanaan dikenal sebagai Tanah Israel.

    Mengapa Tanah Israel sekarang bernama Tanah Palestina?

    Nama “Palestina” diberikan oleh penjajah Romawi kepada Tanah Israel kuno sebagai hukuman atas pemberontakan orang-orang Yahudi di Tanah Israel.

    Nama “Palestina” ditemukan pada masa penjajahan Romawi di Tanah Israel (tahun 63 SM -313 M). Pada saat itu wilayah itu dikenal sebagai Yudea, suatu kerajaan selatan dari Israel kuno.

    Penguasa Romawi yang bertanggungjawab atas daerah Yudea-Israel begitu marah atas pemberontakan orang-orang Yahudi sehingga mencari tahu siapa musuh bebuyutan dari bangsa Yahudi di masa lalu mereka. Para ahli sejarah Romawi menyebut bangsa “Philistine” (Filistin). Maka, penguasa Romawi menyatakan bahwa seluruh Tanah Yudea-Israel selanjutnya bernama Tanah “Philistea” atau dalam bahasa Yunani-Romawi (Latin) diucapkan “Palastina” untuk menjengkelkan bangsa Yahudi. Pada saat yang sama nama ibukota Yerusalem milik bangsa Yahudi diubah menjadi Aelia Capitolina.

    Nama “Falastin” yang dipakai orang Arab sekarang untuk “Palestina” bukanlah nama Arab. Ini adalah pengucapan bunyi Arab dari nama Latin “Palastina”.

    KONFLIK Wilayah, BUKAN Agama

    Jauh sebelum orang Israel menguasai wilayah konflik tersebut, Palestina dikenal dengan nama kanaan dan didiami oleh banyak suku bangsa: Kanaan, Amori, Hewi, Yebus, dsb. Selang sekian waktu setelah orang Israel merebut tanah kanaan, mereka mendirikan kerajaan Israel raya di wilayah tersebut yg mencapai masa keemasan di bwh kepemimpinan raja Salomo. Tapi setelah Salomo mangkat, kerajaan itu pecah menjadi kerajaan Israel dan Yehuda.

    Ketika Assyria melakukan ekspansi, Israel takluk di tangan mereka dan dimusnahkan. yehuda menyusul saudaranya kira-kira dua abad kemudian ketika Babilonia di bawah kepemimpinan Nebukadnezar menguasai wilayah selatan Palestina tersebut. Setelah lewat beberapa waktu, kerajaan Persia bangkit sebagai kekuatan baru.

    Babilonia ditaklukkan, kemudian orang Yehuda diizinkan kembali ke tanah air mereka dan diberi otonomi walaupun secara administratif masih berada di bawah otoritas kerajaan Persia. setelah itu, berturut-turut wilayah itu jatuh ke tangan kekuasaan Yunani, Romawi, Romawi timur, Islam, Tentara Salib, Islam lagi, dan terakhir Inggris Raya. Jadi; praktis tidak pernah lagi ada negara berdaulat yg berdiri di wilayah itu sejak kerajaan Israel dan yehuda ditaklukkan (kecuali fakta bahwa pada masa pra-kekuasaan romawi sempat berdiri kerajaan Yahudi di bawah kepemimpinan dinasti Hasmonea).

    Nama Palestina sendiri baru resmi dan populer digunakan untuk menyebut kawasan itu setelah meletusnya pemberontakan Simon bar Kokhba. Kaisar Hadrianus sengaja memberi nama Palestina untuk menekan sentimen nasionalisme Yahudi.

    Akibat pemberontakan bar kokhba, orang yahudi diusir keluar dari tanah air mereka sendiri dan hidup sebagai pelarian. Baru setelah Islam menguasai wilayah tersebut di bawah kepemimpinan Khalifah umar bin khattab, orang-orang yahudi diizinkan kembali ke Palestina.

    Lama setelah Islam berkuasa di sana, kekaisaran Ottoman sebagai otoritas islam yg berkuasa atas Palestina saat itu pecah. wilayah itu lalu jatuh ke tangan inggris. Tahun 1917, Menlu Inggris, Arthur Balfour mengeluarkan deklarasi Balfour yang tersohor itu yg isinya adalah janji utk membentuk negara Yahudi di Palestina. Deklarasi ini kemudian diikuti oleh rentetan peristiwa yang cukup pelik. Inggris akhirnya malah lepas tangan dan menyerahkan perkara ini ke PBB.

    Tahun 1947 PBB mengajukan rencana pembagian wilayah Palestina menjadi dua negara yang terpisah: negara yahudi dan negara Arab. para pemimpin Yahudi menyambut positif usulan ini, tapi para pemimpin Arab menolak mentah-mentah disusul oleh reaksi kekerasan dari komunitas Arab. Mei 1948, Israel mendeklarasikan kemerdekaannya yang kemudian menyulut perang Arab - Israel dan terus berbuntut konflik sampai saat ini.

  7. 7

    Samsung TL210
    said on Monday, August 23, 2010, 21:09

    Posted from United States
    Using Mozilla Firefox Mozilla Firefox 3.5.3 on Windows Windows XP

    Samsung TL210 | Computer Electronic Gadget Smartphone Review Blog…

    This is my Excerpt for Samsung TL210 …

Gravatar : You can have a picture next to each of your comments by getting a Gravatar

Leave a Reply

Twitter Users
Enter your personal information in the form or sign in with your Twitter account by clicking the button below.


Comments links could be nofollow free
The Holy Qur'an :

© 2010 Media Informasi Wisata dan Komunitas Madura KabarMadura.Com | Media Informasi Wisata dan Komunitas Madura